//
you're reading...

Renungan Kristen

Injil Yang Melampaui Batasan Adat Istiadat / Minggu, 16 September 2012

Kisah Para Rasul 15:1-21

Salah satu bagian penting yang diceritakan dalam Kisah Para Rasul adalah tentang Sidang pertama orang Kristen di dunia ini yang menjadi perikop renungan kita. Pada ayat 1-5 yang menjelaskan sebab musabab diadakannya Sidang di Yerusalem. Disebutkan beberapa orang dari Yudea datang ke Antiokia kemungkinan besar mereka berasal dari golongan Farisi yang terkenal itu. Mereka sengaja datang untuk mengajarkan pokok pengajaran yang menurut mereka sangat penting yakni tentang sunat. Mereka ini bukan tidak setuju adanya penerimaan jemaat Antiokia terhadap orang-orang kafir melalui baptisan. Mereka juga tidak menyangkal bahwa kuasa pengorbanan Yesus Kristus dalam mengampuni dosa, tetapi mereka yakin bahwa dengan jalan penyunatan, Kristus menganugrahkan keselamatan kepada orang percaya. Pengajaran ini tentu saja ditentang keras oleh Paulus dan Barnabas sehingga terjadi pertentangan yang bila dibiarkan dapat menimbulkan perpecahan. Lalu ditetapkan agar Barnabas dan Paulus serta beberapa jemaat pergi ke pada rasul-rasul dan Penatua-Penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu. Kristen Yahudi tetap bersikeras bahwa orang-orang yang bukan Yahudi harus di sunat. Sementara Paulus dan Barnabas juga bersikeras bahwa orang yang bukan Yahudi tidak harus disunat, karena keselamatan bukan karena sunat tetapi anugerah dalam iman kepada Yesus Kristus. Masing-masing pihak bersikukuh dengan kebenaran mereka masing-masing.

Dalam sejarah ini Petrus dan Yakobus dikaruniakan wibawa dan kemampuan untuk memberikan solusi yang tepat dalam persoalan yang ada karena pemahaman yang benar mengenai Yesus Kristus yang tidak saja berdasarkan apa yang mereka tahu (literatur dan tradisi) tetapi apa yang mereka alami (pengalaman iman). Ada beberapa hal kebenaran yang dikemukakan Petrus. Pertama, bahwa Allah mengenal hati manusia (ay 8). Oleh karena itu manusia tidak boleh asal bicara dan tidak boleh mengambil keputusan semata-mata berdasarkan benar menurut dia saja. Benar menurut kita tersebut harus terlebih dahulu diuji sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan dan juga tidak menutup mata terhadap kenyataan-kenyatan yang terjadi. Kedua, Allah tidak membedakan orang (ay 9). Semua manusia telah jatuh ke dalam dosa dan sama-sama dikasihi Allah di dalam Yesus Kristus. Bukti hal tersebut telah dialami Petrus sendiri dimana Kornelius yang adalah non Yahudi juga dikaruniakan Roh Kudus sama seperti para murid. Ketiga, manusia selamat hanya oleh karena kasih karunia (ay 11) dan berlaku bagi semua orang. Tidak hanya bagi orang Yahudi tetapi juga bagi orang non Yahudi. Karena Syariat Taurat/upacara-upacara menurut Taurat (kuk) tidak dapat dipikul oleh nenek moyang mereka dan mereka sendiri. Dengan menyatakan kebenaran ini, akhirnya Petrus mengingatkan peserta sidang agar jangan mencobai Tuhan oleh kebijakan manusia. Setelah penjelasan Petrus peserta sidang terdiam dan mau mendengar Paulus dan Barnabas menceritakan mujizat yang diperbuatan Allah melalui perantaraan mereka di tengah-tengah bangsa-bangsa yang lain, mereka juga menerima saran Yakobus sebagai kesepakatan bersama yakni dak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah, menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah.

Pelajaran apa yang dapat diambil dari nas ini:

  1. Bahwa gereja selalu berhadapan dengan masalah-masalah yang tidak mudah namun rumit. Dalam pengambilan keputusan majelis baik itu penatua diakon dan jajaran pemimpin pasti ada yang pro dan kontra yang  meperdebatkan berbagai argumentasi.
  2. Pemahaman tentang fondasi keimanan hendaknya benar-benar difokuskan pada dasar yang benar dan kokoh. Peleburan antara iman dan budaya atau adat istiadat adalah hal yang baik, namun perlu disaring agar hal tersebut bukan justru mengaburkan pemahaman iman di dalam Yesus Kristus. Jangan karena atas nama adat istiadat dan budaya tapi malah mengesampingkan dan menganggap remeh iman kepada Kristus.

 

Pdt.  Erley Amiani, S.Th, MM – Pendeta Resort GKE Palangka Raya Hilir

Discussion

No comments yet.

Post a Comment