//
you're reading...

Renungan Kristen

Mari Menghayati Hakekat Menyampaikan Doa! / Jumat, 2 Nopember 2012

Mazmur 119:145-152

Suatu kali anak saya yang berumur 21 bulan terantuk dinding kepalanya karena berlari terlalu kencang. Sambil menangis dia mendatangi saya dan memegangi kepalanya. Sebagai orang dewasa, melihat kondisi kepalanya, saya tau, dia tentu tidak cidera sama sekali. Tapi mengapa ia menangis? Anak-anak butuh perhatian dan bimbingan, mengenai:  “jika ada kejadian seperti itu apa yang ia harus dilakukan?” Saya hanya katakan: “Mana yang sakit? Oh, tidak apa-apa, dicium juga sembuh ini!” Anak-anak usia itu biasanya, segera akan berhenti menangis jika diperlakukan begitu dan kembali bermain seperti sedia kala.

Apa yang ingin kita lihat dari ilustrasi di atas berkaitan dengan nast  ini? Bagian nast hari ini berbicara tentang doa yang berdaya. Kunci dari doa yang berdaya adalah kepasrahan dan kepercayaan penuh pada Allah, Sang penerima Permintaan.  Sebagaimana anak tadi, dia sendiri sangat pasrah dan penuh percaya bahwa masalahnya akan diselesaikan dengan baik oleh ibunya; Penyelesaian masalahnya menurut pandangan dan cara ibunya.

Pemazmur menyampaikan kepada kita bagaimana kehidupan doanya yang penuh gairah dalam bagian ini, ia berseru dengan segenap hati (ayat 145), dari pagi buta ia sudah memohon kepada Tuhan (ayat 147-148).  Dengan sebuah keyakinan bahwa Allah akan mengatasi segala kegawatan dalam hidupnya, termasuk orang yang bermaksud jahat (ayat 150).

Sumber kekuatan keyakinan pemazmur ini adalah bahwa Tuhan sedang dekat (ayat 149, 151), yang IA nyatakan melalui segala ketetapan dan peringatan-Nya yang bersifat kekal (ayat 152).  Pada sisi yang lain, kita melihat sisi iman yang dalam, dari si pemazmur, bahwa dengan berpegang pada ketetapan dan Taurat-Nya, maka ia akan selamat dan dijauhkan dari orang yang bermaksud jahat (ayat 150). Inilah sisi kepasrahan dari seruan doa si pemazmur.

Pada dasarnya doa adalah penyampaian keinginan kepada Allah. Tapi pada kenyataannya ada banyak orang yang tidak terlalu yakin dengan doa, karena merasa doanya tidak pernah di jawab oleh Tuhan. Apa betul Tuhan itu tidak menjawab doa kita? Mari saya ajak untuk merenungkan ini.

Saya rasa Allah sebetulnya menjawab semua doa atau permintaan kita pada-Nya, dengan jawaban YA, untuk permintaan yang baik, TIDAK, untuk permintaan yang tidak baik dan TUNGGU, untuk permintaan yang memerlukan saat yang tepat. Jawaban ini bersifat mutlak dalam keputusan Allah. IA yang memutuskan jawaban mana yang diberikan pada kita. Tugas kita sebagai pemohon adalah pasrah pada kehendak-Nya. Jika Allah menjawab TIDAK pada permintaan kita, karena memang IA memandang baik bagi kita untuk menerima jawaban itu.

Lagi pula sebagaimana anak di atas, ia pasrah pada “pemberian” atau cara penyelesaiannya pada cara ibunya. Demikian juga kita, harus pasrah pada cara Allah menyelesaikan permintaan kita. Seperti tertulis: “IA tidak mungkin memberi ular pada mereka yang minta roti”. Sadarilah, bahwa dalam hal ini mungkin saja Allah tidak langsung memberi rotinya, tapi gandumnya. Sikap pasrah dalam doa juga diajarkan-Nya pada kita, ketika Yesus mengatakan doa yang baik adalah mengatakan: “biarlah kehendak Tuhan yang jadi, bukan kehendak kami masing-masing!”

Marilah kita menghayati hakekat penyampaian doa kita. Bahwa doa yang berdaya adalah doa yang penuh kepasrahan pada keputusan Allah saja.

 

Pdt.   Evi Nurleni, STh, MSi, Dosen UNPAR

Discussion

No comments yet.

Post a Comment