//
you're reading...

Renungan Kristen

Jangan Lupa Diri Dan Tinggi Hati / Rabu, 4 September 2013

2 Tawarikh 26:1-23

Raja Uzia adalah seorang raja Yehuda yang  naik tahta pada usia 16 tahun, ia menggantikan ayahnynya ia raja Amazia. Walaupun ia muda, tapi ia adalah seorang raja yang berprestasi dan berkarya. Nas kita ini mencatat betapa cakapnya dan giatnya raja Uzia sebagai seorang raja. Kerajaan Yehuda menikmati kemakmuran dan perkembangan yang besar pada pemerintahan raja Uzia. Ia dapat menaklukan orang Filistin, orang Arab dan orang Amon, ia memperkuat kubu-kubu pertahanan Yerusalem, mengokohkan ketentaraan dengan menyediakan persenjataan dan memajukan pertanian. Kemajuan dan perkembangan bangsa Yehuda dibawah pemerintahan raja Uzia membuat namanya termasyur ( ayat 8 ).

Apa yang menjadi kunci keberhasilan raja Uzia, tentu bukan karena ia hebat, pintar, kuat, gagah, kaya dan mempunyai kedudukan. Keberhasilan raja Uzia karena ia melakukan apa yang benar dimata Tuhan dan takut akan Tuhan ( ayat 4-5 ). Tanpa campur tangan dari Tuhan ia tidak akan pernah mampu menjalankan tugas pemerintahannya dengan baik.

Sayangnya, dalam perkembangan selanjutnya raja Uzia menjadi lupa diri dan tinggi hati (sombong) serta tidak lagi takut akan Tuhan lagi. Kalau awalnya ia adalah raja yang takut akan Tuhan dan melakukan apa yang benar dihadapan Tuhan, namun ketika ia berada di puncak karirnya ia tidak lagi menghormati kekudusan Tuhan. Raja Uzia merampas hak-hak orang lain, yaitu dengan ia pergi ke Ruang Kudus Bait Suci untuk membakar ukupan kepada Tuhan yang sebenarnya itu adalah hak seorang imam. Ada upaya dari Imam Besar Azarya memperingati raja Uzia agar jangan melanggar perintah Allah, tetapi raja Uzia tidak mendengarkan dan ia menjadi marah.  Akibat dari ketidaktaatannya dan penyimpangan yang telah ia lakukan , Allah menghukum dia dengan penyakit kusta (ayat 20 ).  Raja Uzia harus tinggal di pengasingan dan sampai akhir hayatnya ia tetap berpenyakit kusta. Raja Uzia telah mendapat dari hasil perbuatannya yang melanggar perintah Tuhan, karena apa yang  tabur itu yang akan  tuainya (bdk. Gal 6: 7).

Apa yang dialami raja Uzia ini hendaknya menjadi pelajaran bagi kita. Sebab ada kecenderungan seseorang menjadi lupa diri ketika hidupnya sukses dan berhasil, baik oleh karena jabatan dan harta kekayaan/uang. Bahkan ada kalanya, tidak segan-segan mempergunakan jabatan/kekuasaan yang dimilikinya dengan berbuat sesuka hati atau melanggar aturan. Telah banyak contohnya para pejabat di negeri kita ini, yang jatuh dan masuk penjara karena jabtan dan uang. Mereka mempergunakan jabatan dan uang untuk kepentingan pribadi. Sebab zaman sekarang ini  banyak orang lebih bergantung pada apa yang ia miliki, bukan kepada Tuhan yang adalah sumber dari segala yang dimiliki. Ingatlah nas ini : “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil” ( Ayub 1 : 21 ). Amin.

 

Pdt . Ina Ria Aty, STh,, Pendeta Jemaat Bukit Tunggal

Discussion

No comments yet.

Post a Comment